HOME ยป KESEHATAN
KESEHATAN
Sabtu, 25 Februari 2017 , 17:11:00 WIB

Waspadalah...Satu Dari 11 Orang di Indonesia Mengidap Diabetes

Laporan: Robedo Gusti





MBC. Lonceng darurat diabetes semakin mengkhawatirkan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan data teranyar yakni jumlah penderita Diabetes Mellitus (DM) saat ini naik menjadi 422 juta jiwa. Khusus di Indonesia, berdasaran Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan RI, terakhir tahun 2013 sudah mencapai angka 9,1 juta jiwa. Dan jumlah ini terus bertambah, diprediksi pada tahun 2030 akan mencapai 21,3 juta jiwa.

"Hasil penelitian ini mengindikasikan saat ini 1 dari 10 orang warga mengidap Diabetes Mellitus," kata Staf Divisi Endokrin Metabolik RSUP H Adam Malik, dr Santi Syafril, SpPDKEMD, FINASIM, dalam seminar kesehatan "Perananan Complementary and Alternative Medicine Dalam Manajemen Pengobatan Diabetes Mellitus Tipe 2" di Hotel Adi Mulia, Medan, Sabtu (25/2).

Dengan jumlah tersebut, posisi Indonesia menurut dr Santi saat ini berada di urutan ke 7 negara dengan jumlah penduduk tertinggi mengidap DM di dunia. Ironisnya lagi menurutnya, 90 % pasen kencing manis terdiagnosa DM tipe 2. Dan dari jumlah tersebut sebagian besar tidak menyadari jika mereka mengidap DM.

"Ketidaktahuan ini yang berisiko membuat komplikasi," ujarnya.

Sementara itu tingginya jumlah penderita DM di Indonesia membuat secara ekonomis biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan juga sangat tinggi. Direktur Utama PT HArvest Gorontalo Indonesia, M Yamin Lahay mengungkapan pihaknya mencatat total ongkos ekonomi yang harus ditanggung pemerintah sejak 2006 hingga 2015 lalu mencapai Rp 800 triliun. Data dari Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) juga mencatat pasien DM enguasai 30 % klaim atau sekitar Rp 20 triliun.

"Bisa dikatakan Diabetes menjadi penyakit berbiaya paling mahal," sebutnya.

Sementara itu Guru Besar Farmakologi Klinik, Fakultas Kedokteran USU, Prof dr Aznan Lelo mengatakan salah satu kecenderungan yang terjadi ditengah masyarakat untuk mengatasi DM yakni dengan penggunaan obat herbal. Penggunaannya sendiri sangat jarang berdasarkan rekomendasi dari dokter sebab hingga saat ini kalangan dokter diIndonesia masih belum menerima keberadaan obat herbal tersebut. Salah satu penyebabnya yakni keterbatasan dalam penulisan resep untuk sediaan jadi, sementara herbal tersedia dalam berbagai bentuk dan membutuhkan pengolahan atau peracikan tersendiri sebelum digunakan.

"Kebebasan masyarakat menggunakan obat herbal perlu diwaspadai, sebab obat herbal tidak luput dari efek yang merugikan. Belum lagi interaksinya bila diberikan bersamaandengan obat modern atau sedia jadi maupun digunakan bersama obat herbal lainnya dan makanan sehari-hari," ungkapnya.

Pemerintah dalam hal ini menurut Prof dr Aznan Lelo perlu untuk menggalakkan penggunaannya dengan disertai penyebaran informasi lengkap berikut bukti klinis yang teruji. Dengan demikian kalangan dokter dapat memberikan informasi yang jelas mengenai keunggulan ataupun hal lainnya kepada para pasien.

"Pasien harus memperoleh data yang benar mengenai obat dan manfaatnya," tegasnya.

Hal senada disampaikan oleh  Prof Dr Zullies Ikwati, Apt yang juga menjadi ketua tim penguji obat herbal Sozo Formula Manggata 1 (SoMan). Menurutnya uji klinis terhadap seluruh bahan obat herbal serta manfaatnya terhadap kesehatan menjadi kunci utama dalam menghindarkan masyarakat dari penyakit. Lewat uji laboratorium di RS Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta sejak 2015 hingga 2016 lalu, pihaknya memasukkan SoMan dalam kategori  jamu atau herbal tetes yang diproduksi dari bahan alami 39 buah. Dari kandungan berbagai multivitamin dari bahan alami tersebut, SoMan menghasilkan senyawa Fitonutrien yang bersifat antioksidan, antibakteri, anti inflamasi, analgetik, antiradang, antivirus dan kaya serat.

"Proses pembuatannya yang komplek menghasilkan PH hingga 9+ ang baik untuk mencegah serangan penyakit. Dan salah satunya yakni mencegah DM," ujarnya.[rgu]





BERITA LAINNYA